Nyiur melambai-lambai terkena angin. Daun-daun gugur saling berkejaran dengan ombak. Kicauan burung terdengar riuh bersatu dengan kebisingan pantai itu. Anak-anak bersenda gurau sambil membuat benteng pasir yang sesekali terhapus oleh ombak. Jika sudah begitu maka wajah mereka langsung berubah cemberut. Namun, mereka tetap saja mendirikan kembali benteng pasir mereka dekat ombak dengan riangnya. Tak perduli akan ancaman ombak pada benteng pasir mereka.
Sementara orangtua mereka duduk santai mendampingi mereka dengan bercakap-cakap ringan satu sama lain. Ada juga yang menikmati kelapa muda sambil bersenda gurau. Kadang-kadang mereka ikut membantu mendirikan kembali benteng pasir anak-anak mereka. Para muda-mudi agak menyingkir dari keharmonisan orang-orang yang sudah berkeluarga. Duduk berdua sambil menikmati angin sore di tambah dengan kan tenggelamnya sang mentari.
Pantai. Sungguh membawa kebahagiaan bagi semua penikmatnya. Tak perduli dari kalangan mana, dia tetap selalu tampil menawan. Dengan semilir angin, kicauan burung dan ombak yang dia tawarkan membuat tak pernah bosan setiap insan untuk mengunjunginya. Begitupun juga dengan diriku. Aku sedang menikmati keindahan pantai Losari ini. Aku beruntung akhirnya aku bisa mengunjungi tempat ini. Namun, tujuan utamaku ke sini bukan untuk menikmati keindahannya, melainkan menunggu seseorang.
Dia. Seseorang yang mengisi hatiku setahun ini. Aku tengah menunggu kedatangannya. Alvin namanya. Dia berwajah oriental dengan senyum yang selalu menghiasi ketampanannya. Rambut hitam cepaknya selalu serasi dengan kulit sawo matangnya. Tubuhnya yang atletis selalu memelukku saat kedinginan. Alvin, sosok yang cukup baik menurutku. Dia periang dan juga suka melontarkan lelucon-lelucon lucu yang mampu mengocok perut. Tawa lepasnya selalu membuatku tersenyum.
Namun selama setengah tahun ini, dia tidak bisa mendampingiku. Alvin harus melanjutkan kuliah di Jakarta. Sedangkan aku, tetap memilih kuliah di sini walaupun sebenarnya aku juga di terima di salah satu universitas di Jakarta. Ku akui, aku sangat merindukannya. Aku rindu tawa lepasnya, leluconnya, senyum manisnya, terlebih lagi pelukan hangatnya yang selalu ia berikan untukku.
Aku bertemu dengannya di pantai ini. 1,5 tahun lalu tepatnya. Saat itu dia sedang liburan di Pantai Losari. Kamipun berkenalan. 6 bulan masa pendekatanku dengannya, sebelum akhirnya dia memintaku menjadi kekasihnya. Hari ini tepat 1 tahun aku menjalin kasih dengan Alvin. Untuk itulah dia pulang ke sini dan berjanji menemuiku di Pantai ini. Pantai tempat pertama kali aku berjumpa dengannya.
"Ara?" Suara seorang pria menyadarkanku dari lamunan. Aku memutar badanku ke belakang. Betapa terkejutnya aku melihat sosok yang kini berdiri di hadapanku. Diakah ini. Benarkah dia kekasihku yang meninggalkanku selama 6 bulan. Inikah orang yang selama 6 bulan ini kunanti kehadirannya. Tuhan, dia tampan sekali.
"Alvin?" suaraku tercekat. Alvin memelukku erat. Harum parfumnya terasa sekali. Ah.. betapa aku merindukan wangi ini.
"Iya, ini aku Ara, apa kabar?" tanyanya tersenyum miris sambil melepaskan pelukannya.
"Aku baik, bagaimana kabarmu di sana?"
"Baik-baik saja.."
"Aku merindukanmu Alvin, aku sangat merindukanmu,"
"Aku juga Ara, di sana aku sangat tersiksa tanpamu, aku rindu senyumanmu.." katanya sambil menggenggam tanganku erat. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya.
"Benarkah? Aku kira di sana sudah ada wanita lain yang mengisi hatimu," kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutku. Ku lihat reaksi Alvin yang terkejut.
"Ra, tidak ada wanita lain, selain kamu di hatiku,"
"Aku juga," Alvin terdiam lalu menoleh kepadaku sambil memberikan lagi senyuman mirisnya. Bukan itu yang aku inginkan. Aku ingin senyum manismu. Tak tahukah kau bahwa aku sangat merindukanmu.
"Ara, aku ingin sebentar saja aku bisa memelukmu, mendekapmu dengan seluruh cintaku, aku ingin hidup denganmu, bersama menjalin cerita untuk selamanya, aku mencintaimu Ara,"
"Hanya sebentar saja?"
"Ya, sebelum akhirnya aku harus pergi.." Aku terkejut.
"Kamu ingin pergi kemana?"
"Aku mencintaimu, aku tidak ingin meninggalkanmu Ara, aku terlalu mencintaimu, kenapa kita tidak bisa bersatu?" pekiknya frustasi.
"Apa maksudmu?" Dia menunduk, lantas memberikan sebuah undangan kepadaku. Aku membaca nama yang tertera di situ. Alvin dan Agnes. Saat itu juga aku menangis. Apa yang terjadi. Kenapa ini harus menimpaku. Ini pasti mimpi. Aku mencubit pipiku dengan keras. Namun kurasakan sakit yang sangat. Bukan di pipiku tapi di hatiku yang terdalam. Perih.
"Maafkan aku ra, ini semua bukan mauku, aku ingin menikah denganmu, namun kita berbeda, kita tidak akan pernah bersatu ra, dunia tidak menginginkan kita bersatu. Tuhan memang satu, kita yang tak sama.." katanya sambil memelukku lagi. Aku mendorong tubuhnya menjauh dariku. Ku peluk kedua kakiku sambil menangis.
"Pergi!! Tinggalkan aku! Aku tidak butuh orang sepertimu!!" teriakku sambil menangis keras.
"Tidak, aku akan tetap di sini ra, aku akan tetap menemanimu sampai akhir hayatku, aku akan batalkan pernikahan ini!"
"Untuk apa kamu di sini, jika akhirnya kita tidak akan pernah bersatu Alvin!"
"Aku mencintaimu Ara," Dia memandangku dengan miris. Perlahan bulir-bulir air keluar dari matanya. Baru kali ini aku melihatnya menangis. Dan itu karenaku.
"Alvin! Pergilah!! Aku tidak butuh tangisanmu! Tinggalkan aku di sini Alvin!!"
"Tidak!!"
"Pergi!!"
"Alvin!" Seorang wanita datang menghampirinya dan membantunya berdiri. Wajahnya sangat cantik dengan rambut lurus tergerai. Di lehernya tertancap kalung salib. Aku yakin dialah yang akan bersanding dengan orang yang kucintai. Jika di bandingkan denganku, wanita ini sangat cocok untuk Alvin. Selain cantik, tubuhnya juga ramping khas model. Dari tatapannya terpancar sifat lembut.
"Kamu Agnes?" tanyaku dengan tatapan tidak suka. Dia mengangguk lantas menundukkan kepalanya.
"Iya, aku Agnes,"
"Oh,"
"Maaf ya, aku juga awalnya tidak terima dengan pernikahan ini, karena aku tau Alvin hanya mencintai kamu ra, dia selalu cerita tentang kamu, dan aku yakin cuma kamu yang ada di hati Alvin sampai sekarang. Walaupun Alvin tidak mencintai aku, aku akan tetap mendampingin dia kok, sambil berharap suatu saat dia bisa melupakan kamu dan mencintai aku dengan tulus," Agnes menghela napas panjang.
"Maaf ya, kalau aku merebut Alvin dari kamu, aku akan berusaha membahagiakan Alvin demi kamu ra, aku harap kamu mau memaafkan Alvin, dia tidak bersalah, aku yang salah, jangan marah sama Alvin ya, kamu marah sama aku aja.. Alvin sangat mencintai kamu ra, kamu terlalu istimewa untuk Alvin, sampai-sampai dia tidak bisa membuka hati untuk wanita lain, bahkan untuk aku, calon istrinya.." Aku tersentuh dengan kata-katanya. Wanita ini benar-benar mencintai Alvin. Kenapa aku harus bersikap egois. Kenapa aku harus menjadi benalu untuk cintanya. Kenapa aku harus mengganggu mereka. Kenapa aku harus merebut cinta Alvin, orang yang sangat Agnes cintai.
"Agnes, Alvin, kalian itu pasangan serasi, Alvin, lupakan aku, menikahlah dengan Agnes, aku merestui pernikahan kalian,"
"Aku akan tetap mencintai kamu Ra, selamanya," Aku meletakkan jari telunjukku di mulut Alvin.
"Agneslah yang harusnya kamu cintai, berjanjilah kamu akan mencintai Agnes, dan kamu akan membahagiakannya, demi aku!"
"Iya, aku berjanji," Alvin memelukku erat. Ku lihat reaksi Angel, dia hanya tersenyum. Aku terisak lagi. Aku sangat mencintaimu Alvin.
"Aku akan datang di pernikahan kalian kok,"
"Benar?" tanya Agnes tersenyum senang.
"Iya," Aku memeluk wanita kristiani ini.
***
Aku berlari tergesa-gesa menuju sebuah gereja tua di Jakarta. Pesawatku mengalami keterlambatan penerbangan hingga hampir saja aku ketinggalan resepsi pernikahan mereka. Aku menunggu di luar pekarangan gereja, karena aku adalah seorang muslim. Setelah beberapa saat, keluarlah dua sejoli yang saling tersenyum satu sama lain. Tangan mereka saling berpautan, dengan cincin terlingkar manis di jari mereka berdua. Aku tersenyum saat mereka menghampiriku.
"Tuh kan, kalian serasi sekali!" pujiku bersungguh-sungguh sambil memberikan bingkisan kado untuk hadiah pernikahan mereka.
"Terimakasih ya ra," kata Agnes sambil memelukku.
"Iya, semoga bahagia ya,"
"Kamu cantik sekali hari ini Ra," puji Alvin memperhatikanku dari atas sampai kebawah.
"Ah, istrimu lebih cantik,"
"Oh iya, ini untukmu Ra," Agnes memberikan sebuah kalung dengan liontin hati yang di dalamnya terukir A-A. Aku menatap mereka meminta penjelasan.
"Untukmu, A-A itu artinya Alvin dan Agnes, Untukku A-A itu Ara dan Alvin, dan Untuk Alvin, A-A itu Ara dan Agnes," jawab Agnes seolah berhasil membaca pikiranku.
"Haha, kalian ada-ada saja," Aku tersenyum dan menyimpan kalung itu di sakuku.
"Sayang!!" Seorang pria menghampiriku dengan terengah-engah.
"Dia siapa?" tanya Agnes dan Alvin berbarengan.
"Haha.. kalian kompak sekali, dia Ilham, tunanganku.." jawabku sambil tersenyum pada Ilham. Pria yang sudah mengobati hatiku karena luka yang di tinggalkan Alvin. Ilham sebenarnya adalah sahabatku di fakultas kedokteran. Aku sudah mengenalnya sejak lama. Dan ternyata tak pernah ku sadari bahwa dia mencintai ku. Untuk itulah, saat dia menawarkan menjadi pendamping hidupku, aku menyetujuinya.
"Iya, kenalkan saya Ilham, saya tunangannya Ara, kamu pasti Agnes dan ini Alvin kan?" Mereka mengangguk sambil tersenyum.
"Selamat menempuh hidup baru ya, doakan kami juga," Ilham menjabat tangan Alvin, dan melipat tangannya khas orang islam yang bersalaman dengan yang bukan mukhrimnya pada Agnes. Agnes mengikuti Ilham sambil tersenyum.
"Iya, pasti kami doakan,"
"Haha.. terimakasih ya,"
"Ayo kita berfoto dulu?" tawar Agnes sambil merangkulku.
"Ayo.."
"1..2..3.. SENYUM!"
Ya Allah, semoga saja ini yang terbaik untukku, Alvin, Agnes dan mas Ilham.
