Rabu, 20 Maret 2013

Kejujuran Segalanya

Di sini, di pantai ini kita mengurai cerita. Tawa, canda, sedih, duka semua bercampur menjadi satu dalam sebuah nama, cinta. Tak bisa ku elakkan lagi, sejak pertama aku memandangmu, hatiku sudah terikat olehmu. Ketampananmu, kebaikanmu, kepolosanmu, dan semuanya yang membuatmu menjadi indah di mataku. Dan juga senyummu yang selalu kau berikan pada setiap orang yang dekat denganmu.

    Termasuk diriku, seorang gadis yang mencintaimu sejak dulu. Sejak pertama kali bertemu saat kita masih berbaju putih dongker. Tapi aku cukup sadar diri. Memangnya siapa diriku ini di bandingkan dengan Ana, gadis yang sangat kau cintai dan beruntung bisa menjadi kekasihmu sekarang. Aku hanyalah sebuah kerikil di jalanan yang tak pernah kau pedulikan. Aku hanya menjadi teman di saat kau kesepian saja. Di saat lain, kau akan kembali mencampakkanku dan berdua dengannya.

    Tak pernahkah kau sadari perasaanku ini, yang selalu bertambah setiap harinya. Tak pernahkah kau sadari dendam besarku terhadap Ana yang telah merebutmu dari aku. Tak pernahkah kau mengingat kenangan yang pernah kita ukir bersama. Kenangan yang tak akan pernah lepas dari ingatanku. Kenangan yang kita bangun selama 10 tahun ini. Lalu, selama ini kau anggap apa aku? Apa aku hanya kau anggap sebagai seorang sahabat? Atau kau hanya menganggapku sebagai adikmu sendiri? Kenapa tidak bisa lebih dari itu?!

    "Alya?" sebuah suara kecil mengagetkanku. Aku menoleh ke belakang. Ku dapati dia dengan senyum khasnya yang lebar.

    "Kenapa?"

    "Aku sangat senang hari ini!" Dia mengambil posisi di sampingku lalu meneguk air kelapa yang tak kusentuh sedikitpun dari tadi.

    "Senang kenapa?"

    "Karena dia bersedia dinner denganku!" Aku mengalihkan pandanganku depan, memandang gelombang laut yang beriak-riak tak tentu arah. Mencerminkan perasaanku saat ini.

    "Ana?"

    "Ya, Memangnya siapa lagi? Tidak mungkin kan denganmu? Hehe.." Tawa renyahnya meluncur dengan cepat, aku hanya menunduk. Kau memang tidak pernah mengerti perasaanku.

    "Ohh.." Hanya itu yang bisa ku keluarkan dari mulutku. Lalu kami kembali terdiam, sibuk dengan pemikiran masing-masing, yang tentu saja tak akan pernah sama. Kau pasti memikirkan Ana, sedangkan aku, selalu sibuk memikirkanmu.

    "Sepertinya kamu agak berbeda hari ini?"  tanyanya sambil mengamatiku. Aku menghela nafas panjang. Menoleh kepadanya sebentar dan kembali memandang lautan.

    "Kenapa baru sekarang kau sadar?"

    "Maksudmu?"

    "Kenapa baru sekarang kau sadar aku berbeda?"

    "Aku tidak mengerti. Aku hanya berpikir, kamu kelihatan sedih.. tidak seperti Alya yang biasanya.."

    "Memangnya kau tau seperti apa Alya yang biasanya?"

    "Ya, Alya yang kukenal itu periang, baik, cerewet, selalu memukulku jika aku mengambil air kelapamu, dan juga kamu selalu menunjukkan senyummu itu saat aku meringis kesakitan.."

    "Aku kira kamu sudah lupa.." Aku tersenyum sinis.

    "Lupa kenapa?"

    "Ya karena Ana, semenjak ada dia kamu menjauhiku!"

    "Apa maksudmu? Kamu tidak suka aku berhubungan dengan Ana?" tanyanya kaget dengan sindiranku.

    "Aku punya cerita, apa kamu mau mendengarnya," Dia hanya mengangkat bahu.

    "Baiklah, ada dua orang anak smp yang bertemu di kelas 7.1, karena hobi mereka sama, mereka memutuskan untuk menjadi sahabat. Sejak saat itu, mereka terlihat sangat akrab dan sulit untuk di pisahkan. Setiap hari sabtu sore mereka selalu mengunjungi pantai ini. Suka duka mereka jalani bersama. Yang cowok selalu mengganggu yang cewek dengan mengambil air kelapanya, kalau sudah begitu, cewek itu akan memukul sang cowok dan tersenyum saat sang cowok meringis kesakitan akibat pukulannya.." Aku menghela napas, berusaha menahan bulir air mata yang bersembunyi di bawah mataku.

    "Namun, semuanya berubah saat sang cowok mempunyai kenalan baru, yaitu seorang gadis yang sangat cantik.. Sang cowokpun mulai menjauhi sahabatnya itu dan sibuk dengan gadis itu. Si cewek yang sudah mulai mencintai sahabat cowoknya itu sangat sedih. Dia berusaha melupakan cowok itu. Tapi, semakin berusaha dia melupakan, semakin bertambah cintanya.. Sampai saat inipun cowok itu tidak pernah memahami perasaan cewek itu. Bagaimana sakitnya dia saat melihat cowok itu tersenyum pada gadis yang baru dia kenal itu. Apalagi  hatinya sangat hancur saat sahabatnya dengan gampangnya curhat dengan dirinya bahwa dia mulai menyukai gadis itu.. Tanpa pernah mempedulikan cewek itu.." Aku tak bisa lagi menahannya, air mataku tumpah saat itu juga. Sakit. Sangat sakit. Dia hanya menatapku tak percaya.

    "Jadi, kamu mencintaiku Alya? Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya?"

    "Untuk apa? Kau mencintainya, bukan aku! Lalu untuk apa aku mengatakannya? Untuk apa Aga?! Untuk apa?!" bentakku.

    "Alya, maafkan aku. Maafkan aku yang sudah menyakitimu.. Maafkan aku yang tidak pernah mengerti perasaanmu.. Maafkan aku yang tidak peka akan cintamu.. Aku akan memutuskannya Alya!" kata Aga sambil memelukku. Aku mendorong tubuhnya menjauh dariku.

    "Untuk apa kau memutuskannya jika orang yang kau cintai adalah dia!"

    "Aku tidak pernah mencintainya! Aku mencintaimu Alya, dia hanya pelampiasanku saja! Aku tidak pernah benar-benar mencintainya!"

    "Kau bohong, aku tidak percaya padamu! Kau hanya ingin menghiburku!"

    "Tidak, aku bersungguh-sungguh, aku mencintaimu!"

    "Sudahlah, mungkin ini yang terbaik untuk kita, lusa aku akan berangkat ke Melbourne Aga! Selamat tinggal, aku harap kamu bahagia dengan pilihanmu!" Aku bangkit dan beranjak pergi, namun Aga menarik tanganku. Ku lihat matanya mulai merah, menahan tangisan. Apakah dia sungguh-sungguh mencintaiku? Apakah ini hanya mimpi saja? Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?

    "Aku mencintaimu, aku bersungguh-sungguh! Aku tidak akan membiarkanmu pergi.. Aku mohon jangan tinggalkan aku.." pintanya memelas. Aku menatapnya iba. Perlahan kulepaskan genggaman tangannya dan pergi dari situ. Aku tidak bisa. Terlalu sakit.

    ***
    Hari ini, hari keberangkatanku ke Melbourne. Dan kini aku sudah duduk di kursi ruang tunggu. Tak ada tanda-tanda Aga akan datang ke sini. Syukurlah, dia sudah mulai melupakanku. Aku akui, aku memang mencintainya, tapi aku yakin orang yang dia cintai adalah  Ana, bukan aku. Ahh.. Aga, mungkin aku tidak akan bisa melupakan semua kenangan yang pernah kita ukir bersama di sini. Namun, bisakah aku mencoba menutupinya dengan kenangan indah yang akan kuukir bersama seseorang yang baru di Melbourne nanti? Aku tak pernah tau, tapi aku akan mencobanya.

    "Bagi para penumpang calon keberangkatan Jakarta-Melbourne, diharapkan segera memasuki pesawat!"

    Aku bangkit dan menyeret koperku masuk ke pesawat. Tampak kerumunan orang sudah masuk duluan ke pesawat itu sambil berdesak-desakan. Aku mendengus kesal, ini yang paling aku benci. Ku tunggu kerumunan itu masuk semuanya, baru aku masuk ke dalam pesawat itu.

    Pesawat ini cukup besar, mungkin bisa menampung 500 orang. Aku sendiri memegang tiket VIP. Semoga saja orang yang duduk di sampingku nanti adalah seorang wanita muda seumuranku yang bisa di ajak mengobrol. Jadi, aku tidak kepikiran Aga lagi. Namun, setelah pesawat lepas landas pun, tidak ada yang duduk di sampingku. Hah, menyebalkan sekali. Karena dudukku di samping jendela, aku bisa bebas melihat bumi Indonesia dari bawah. Ah.. betapa aku akan merindukan negeri ini.

    "Hai," Aku menoleh. Kudapati seseorang yang ku kenal kini sudah duduk di sampingku. Aku menutup mulutku tak percaya. Dia...

    "Aga?"

    "Iya, ini aku Alya, aku Aga! Orang yang berusaha kamu lupakan.." sahutnya tersenyum miris.

    "Kamu kenapa bisa sampai di sini?"

    "Sudah kukatakan, aku mencintaimu, aku tidak akan membiarkanmu pergi, tapi kalau kamu memang ingin pergi juga, maka izinkan aku untuk ikut bersamamu!" jawab Aga bersungguh-sungguh. Air mataku perlahan turun kembali. Dengan sigap, Aga memelukku.

    "Aku mencintaimu Aga," bisikku pelan.

    "Apa? Aku tidak mendengarnya? Bisa kamu ulangi lagi?" goda Aga sambil tersenyum nakal.

    "Aku mencintaimu Aga!" kataku, kali ini sedikit keras.

    "Haha.. aku juga mencintaimu Alya, maafkan aku sudah menyakitimu.."

    "Tak apa, lalu bagaimana dengan Ana?" tiba-tiba saja pertanyaan ini keluar dari mulutku.

    "Awalnya dia tidak terima, tapi aku mengatakan bahwa aku tidak mencintainya, aku mencintaimu, dan akhirnya dia membiarkanku pergi.."

    "Kenapa dulu kamu bilang sama aku kalau kamu cinta sama dia? Dan kenapa kamu pacaran sama dia, kalau yang kamu cinta ternyata aku?"

    "Aku cemburu.."

    "Cemburu? Cemburu sama siapa?" tanyaku kaget. Sepertinya aku tidak pernah dekat dengan cowok manapun selain Aga.

    "Cemburu sama Ali, kamu sama dia dekat banget kan dulu, Ali cerita sama aku, dia itu suka sama kamu, dan katanya kamu juga udah nunjukin tanda-tanda kalau kamu suka sama Ali, makanya aku pacaran sama Ana.." jawabnya sambil tersenyum miris.

    "Maaf ya, tapi aku gak pernah suka sama Ali, aku nganggap dia cuma teman aja.." Aga menggenggam tanganku.

    "Jadi, kamu mau kan jadi pacar aku?" tanya Aga serius. Aku tersenyum dan mengangguk.

    "Aku mau.."
   

Minggu, 24 Februari 2013

Ini Yang Terbaik




Nyiur melambai-lambai terkena angin. Daun-daun gugur saling berkejaran dengan ombak. Kicauan burung terdengar riuh bersatu dengan kebisingan pantai itu. Anak-anak bersenda gurau sambil membuat benteng pasir yang sesekali terhapus oleh ombak. Jika sudah begitu maka wajah mereka langsung berubah cemberut. Namun, mereka tetap saja mendirikan kembali benteng pasir mereka dekat ombak dengan riangnya. Tak perduli akan ancaman ombak pada benteng pasir mereka.

Sementara orangtua mereka duduk santai mendampingi mereka dengan bercakap-cakap ringan satu sama lain. Ada juga yang menikmati kelapa muda sambil bersenda gurau. Kadang-kadang mereka ikut membantu mendirikan kembali benteng pasir anak-anak mereka. Para muda-mudi agak menyingkir dari keharmonisan orang-orang yang sudah berkeluarga. Duduk berdua sambil menikmati angin sore di tambah dengan kan tenggelamnya sang mentari.

Pantai. Sungguh membawa kebahagiaan bagi semua penikmatnya. Tak perduli dari kalangan mana, dia tetap selalu tampil menawan. Dengan semilir angin, kicauan burung dan ombak yang dia tawarkan membuat tak pernah bosan setiap insan untuk mengunjunginya. Begitupun juga dengan diriku. Aku sedang menikmati keindahan pantai Losari ini. Aku beruntung akhirnya aku bisa mengunjungi tempat ini. Namun, tujuan utamaku ke sini bukan untuk menikmati keindahannya, melainkan menunggu seseorang.

Dia. Seseorang yang mengisi hatiku setahun ini. Aku tengah menunggu kedatangannya. Alvin namanya. Dia berwajah oriental dengan senyum yang selalu menghiasi ketampanannya. Rambut hitam cepaknya selalu serasi dengan kulit sawo matangnya. Tubuhnya yang atletis selalu memelukku saat kedinginan. Alvin, sosok yang cukup baik menurutku. Dia periang dan juga suka melontarkan lelucon-lelucon lucu yang mampu mengocok perut. Tawa lepasnya selalu membuatku tersenyum.

Namun selama setengah tahun ini, dia tidak bisa mendampingiku. Alvin harus melanjutkan kuliah di Jakarta. Sedangkan aku, tetap memilih kuliah di sini walaupun sebenarnya aku juga di terima di salah satu universitas di Jakarta. Ku akui, aku sangat merindukannya. Aku rindu tawa lepasnya, leluconnya, senyum manisnya, terlebih lagi pelukan hangatnya yang selalu ia berikan untukku.

Aku bertemu dengannya di pantai ini. 1,5 tahun lalu tepatnya. Saat itu dia sedang liburan di Pantai Losari. Kamipun berkenalan. 6 bulan masa pendekatanku dengannya, sebelum akhirnya dia memintaku menjadi kekasihnya. Hari ini tepat 1 tahun aku menjalin kasih dengan Alvin. Untuk itulah dia pulang ke sini dan berjanji menemuiku di Pantai ini. Pantai tempat pertama kali aku berjumpa dengannya.

"Ara?" Suara seorang pria menyadarkanku dari lamunan. Aku memutar badanku ke belakang. Betapa terkejutnya aku melihat sosok yang kini berdiri di hadapanku. Diakah ini. Benarkah dia kekasihku yang meninggalkanku selama 6 bulan. Inikah orang yang selama 6 bulan ini kunanti kehadirannya. Tuhan, dia tampan sekali.

"Alvin?" suaraku tercekat. Alvin memelukku erat. Harum parfumnya terasa sekali. Ah.. betapa aku merindukan wangi ini.

"Iya, ini aku Ara, apa kabar?" tanyanya tersenyum miris sambil melepaskan pelukannya.

"Aku baik, bagaimana kabarmu di sana?"

"Baik-baik saja.."

"Aku merindukanmu Alvin, aku sangat merindukanmu,"

"Aku juga Ara, di sana aku sangat tersiksa tanpamu, aku rindu senyumanmu.." katanya sambil menggenggam tanganku erat. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya.

"Benarkah? Aku kira di sana sudah ada wanita lain yang mengisi hatimu," kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutku. Ku lihat reaksi Alvin yang terkejut.

"Ra, tidak ada wanita lain, selain kamu di hatiku,"

"Aku juga," Alvin terdiam lalu menoleh kepadaku sambil memberikan lagi senyuman mirisnya. Bukan itu yang aku inginkan. Aku ingin senyum manismu. Tak tahukah kau bahwa aku sangat merindukanmu.

"Ara, aku ingin sebentar saja aku bisa memelukmu, mendekapmu dengan seluruh cintaku, aku ingin hidup denganmu, bersama menjalin cerita untuk selamanya, aku mencintaimu Ara,"

"Hanya sebentar saja?"

"Ya, sebelum akhirnya aku harus pergi.." Aku terkejut.

"Kamu ingin pergi kemana?"

"Aku mencintaimu, aku tidak ingin meninggalkanmu Ara, aku terlalu mencintaimu, kenapa kita tidak bisa bersatu?" pekiknya frustasi.

"Apa maksudmu?" Dia menunduk, lantas memberikan sebuah undangan kepadaku. Aku membaca nama yang tertera di situ. Alvin dan Agnes. Saat itu juga aku menangis. Apa yang terjadi. Kenapa ini harus menimpaku. Ini pasti mimpi. Aku mencubit pipiku dengan keras. Namun kurasakan sakit yang sangat. Bukan di pipiku tapi di hatiku yang terdalam. Perih.

"Maafkan aku ra, ini semua bukan mauku, aku ingin menikah denganmu, namun kita berbeda, kita tidak akan pernah bersatu ra, dunia tidak menginginkan kita bersatu. Tuhan memang satu, kita yang tak sama.." katanya sambil memelukku lagi. Aku mendorong tubuhnya menjauh dariku. Ku peluk kedua kakiku sambil menangis.

"Pergi!! Tinggalkan aku! Aku tidak butuh orang sepertimu!!" teriakku sambil menangis keras.

"Tidak, aku akan tetap di sini ra, aku akan tetap menemanimu sampai akhir hayatku, aku akan batalkan pernikahan ini!"

"Untuk apa kamu di sini, jika akhirnya kita tidak akan pernah bersatu Alvin!"

"Aku mencintaimu Ara," Dia memandangku dengan miris. Perlahan bulir-bulir air keluar dari matanya. Baru kali ini aku melihatnya menangis. Dan itu karenaku.

"Alvin! Pergilah!! Aku tidak butuh tangisanmu! Tinggalkan aku di sini Alvin!!"

"Tidak!!"

"Pergi!!"

"Alvin!" Seorang wanita datang menghampirinya dan membantunya berdiri. Wajahnya sangat cantik dengan rambut lurus tergerai. Di lehernya tertancap kalung salib. Aku yakin dialah yang akan bersanding dengan orang yang kucintai. Jika di bandingkan denganku, wanita ini sangat cocok untuk Alvin. Selain cantik, tubuhnya juga ramping khas model. Dari tatapannya terpancar sifat lembut.

"Kamu Agnes?" tanyaku dengan tatapan tidak suka. Dia mengangguk lantas menundukkan kepalanya.

"Iya, aku Agnes,"

"Oh,"

"Maaf ya, aku juga awalnya tidak terima dengan pernikahan ini, karena aku tau Alvin hanya mencintai kamu ra, dia selalu cerita tentang kamu, dan aku yakin cuma kamu yang ada di hati Alvin sampai sekarang. Walaupun Alvin tidak mencintai aku, aku akan tetap mendampingin dia kok, sambil berharap suatu saat dia bisa melupakan kamu dan mencintai aku dengan tulus," Agnes menghela napas panjang.

"Maaf ya, kalau aku merebut Alvin dari kamu, aku akan berusaha membahagiakan Alvin demi kamu ra, aku harap kamu mau memaafkan Alvin, dia tidak bersalah, aku yang salah, jangan marah sama Alvin ya, kamu marah sama aku aja.. Alvin sangat mencintai kamu ra, kamu terlalu istimewa untuk Alvin, sampai-sampai dia tidak bisa membuka hati untuk wanita lain, bahkan untuk aku, calon istrinya.." Aku tersentuh dengan kata-katanya. Wanita ini benar-benar mencintai Alvin. Kenapa aku harus bersikap egois. Kenapa aku harus menjadi benalu untuk cintanya. Kenapa aku harus mengganggu mereka. Kenapa aku harus merebut cinta Alvin, orang yang sangat Agnes cintai.

"Agnes, Alvin, kalian itu pasangan serasi, Alvin, lupakan aku, menikahlah dengan Agnes, aku merestui pernikahan kalian,"

"Aku akan tetap mencintai kamu Ra, selamanya," Aku meletakkan jari telunjukku di mulut Alvin.

"Agneslah yang harusnya kamu cintai, berjanjilah kamu akan mencintai Agnes, dan kamu akan membahagiakannya, demi aku!"

"Iya, aku berjanji," Alvin memelukku erat. Ku lihat reaksi Angel, dia hanya tersenyum. Aku terisak lagi. Aku sangat mencintaimu Alvin.

"Aku akan datang di pernikahan kalian kok,"

"Benar?" tanya Agnes tersenyum senang.

"Iya," Aku memeluk wanita kristiani ini.

***

Aku berlari tergesa-gesa menuju sebuah gereja tua di Jakarta. Pesawatku mengalami keterlambatan penerbangan hingga hampir saja aku ketinggalan resepsi pernikahan mereka. Aku menunggu di luar pekarangan gereja, karena aku adalah seorang muslim. Setelah beberapa saat, keluarlah dua sejoli yang saling tersenyum satu sama lain. Tangan mereka saling berpautan, dengan cincin terlingkar manis di jari mereka berdua. Aku tersenyum saat mereka menghampiriku.

"Tuh kan, kalian serasi sekali!" pujiku bersungguh-sungguh sambil memberikan bingkisan kado untuk hadiah pernikahan mereka.

"Terimakasih ya ra," kata Agnes sambil memelukku.

"Iya, semoga bahagia ya,"

"Kamu cantik sekali hari ini Ra," puji Alvin memperhatikanku dari atas sampai kebawah.

"Ah, istrimu lebih cantik,"

"Oh iya, ini untukmu Ra," Agnes memberikan sebuah kalung dengan liontin hati yang di dalamnya terukir A-A. Aku menatap mereka meminta penjelasan.

"Untukmu,  A-A itu artinya Alvin dan Agnes, Untukku A-A itu Ara dan Alvin, dan Untuk Alvin, A-A itu Ara dan Agnes," jawab Agnes seolah berhasil membaca pikiranku.

"Haha, kalian ada-ada saja," Aku tersenyum dan menyimpan kalung itu di sakuku.

"Sayang!!" Seorang pria menghampiriku dengan terengah-engah.

"Dia siapa?" tanya Agnes dan Alvin berbarengan.

"Haha.. kalian kompak sekali, dia Ilham, tunanganku.." jawabku sambil tersenyum pada Ilham. Pria yang sudah mengobati hatiku karena luka yang di tinggalkan Alvin. Ilham sebenarnya adalah sahabatku di fakultas kedokteran. Aku sudah mengenalnya sejak lama. Dan ternyata tak pernah ku sadari bahwa dia mencintai ku. Untuk itulah, saat dia menawarkan menjadi pendamping hidupku, aku menyetujuinya.

"Iya, kenalkan saya Ilham, saya tunangannya Ara, kamu pasti Agnes dan ini Alvin kan?" Mereka mengangguk sambil tersenyum.

"Selamat menempuh hidup baru ya, doakan kami juga," Ilham menjabat tangan Alvin, dan melipat tangannya khas orang islam yang bersalaman dengan yang bukan mukhrimnya pada Agnes. Agnes mengikuti Ilham sambil tersenyum.

"Iya, pasti kami doakan,"

"Haha.. terimakasih ya,"

"Ayo kita berfoto dulu?" tawar Agnes sambil merangkulku.

"Ayo.."

"1..2..3.. SENYUM!"

Ya Allah, semoga saja ini yang terbaik untukku, Alvin, Agnes dan mas Ilham.

Jangan Pergi



Aku menatapnya yang kini duduk di sampingku. Dia tampak sama, dingin dan tak pernah banyak omong. Dia selalu acuh pada keadaan sekitarnya. Termasuk diriku. Tapi aku tak pernah menyesal menjalin hubungan dengannya. Aku suka sikapnya yang dingin dan tak pernah berbasa-basi. Aku masih ingat bagaimana saat dia dulu menyatakan cintanya kepadaku.

“Via, aku mencintaimu, aku ingin kamu menjadi pacarku, apa kamu mau?” tanya Aga saat menyatakan cintanya padaku.

“Aku mau!” jawabku sambil tersenyum.

Entahlah aku tak pernah tau mengapa aku mencintainya. Yang pasti aku menyukai semua tentangnya. Bagiku semuanya indah selama masih berhubungan dengannya.

“Aga!” Dia menoleh kepadaku sebentar dan kembali menatap lurus kedepan.

“Ada apa Via? Aku tidak punya banyak waktu jadi jangan berbasa-basi!!”

“Luangkanlah sedikit waktumu Aga!” jawabku miris.

“Untuk siapa? Untukmu! Huh.. Aku punya banyak urusan lain selain mengurusimu!” 

Aku tertegun.

“Jadi kamu mengira aku tidak penting!!” jeritku pelan.

“Lalu kenapa kamu memintaku untuk menjadi pacarmu?” Dia tidak menjawab.

“Jawab Aga!!” bentakku. Dia tersentak dan menoleh kepadaku dengan emosi.

“Karna Aku mencintaimu!! Dan aku sudah pernah mengatakan itu sebelumnya!! Jadi jangan bertanya lagi!!” tegasnya.

“Kalau kamu mencintaiku, berilah sedikit waktumu untukku Aga!!” Aku menangis. Aga menatapku dengan perasaan bersalah, lalu memelukku erat. Hangat. Itu Yang kurasakan. Tak seperti sikapnya yang dingin.

“Jangan nangis lagi. Maafin aku ya, aku akan berusaha buat luangin waktu aku buat kamu..” Dia mengelus rambutku pelan.

“Janji?” Aku menatapnya.

“Iya,"

***
Hari ini Aga menepati janjinya dan mengajakku berjalan-jalan di taman kota. Dia membelikanku es krim dan menarikku untuk duduk disalah satu bangku taman. Di depan bangku itu ada sebuah kolam ikan kecil yang dipenuhi ikan. Aku melemparkan sedikit cone es krimku pada mereka. Dan mereka langsung mendekat. Setelah sadar bahwa itu bukan makanan mereka. Merekapun menjauh dari situ. Aku tertawa geli melihat mereka. 

“Kenapa tertawa?!” tanya Aga kesal. 

Aku menoleh dan tersenyum sebentar.

“Bukankah ini lucu Aga?” Dia mendengus kesal. 

“Kamu seperti anak kecil, Via!” Aku tersenyum senang dan kembali menjahili ikan-ikan di dalam kolam itu. Sementara Aga hanya melipat tangannya sambil menekuk wajahnya. Hmm.. Yah, aku tau Aga tak pernah suka jika berada di taman karna menurutnya taman adalah tempat yang menyebalkan karna banyak orang tertawa disini. Aga memang tak suka berada di tengah-tengah keramaian. Dia lebih suka berada di tempat sunyi dan dia akan mulai melukis apa saja yang dilihatnya.

Aga memang termasuk seseorang yang pandai melukis. Dia selalu melukis apa saja yang dia mau. Tapi dia tak pernah melukis diriku. Alasannya karna aku ini bukanlah sebuah objek. Entahlah, aku tak tau apa yang ada dipikirannya, yang pasti aku selalu menyukai semua tentangnya. Apapun itu. Dan aku sudah hapal semua hobinya termasuk apa yang tidak dia sukai. Aku selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik bagi Aga.

“Aga?” sapa seorang perempuan yang tiba-tiba datang dihadapanku. Aga tampak terkejut melihat perempuan itu, tapi dia berusaha menyembunyikannya.

“Kamu siapa?” tanyaku melihat Aga yang terdiam.

“Owh, bukankah kau Via? Apakah aga tidak pernah bercerita tentangku?” tanya perempuan itu balik bertanya. Aku menoleh pada Aga meminta penjelasan.

“Dia temanku!” jawab Aga singkat. 

“Bukan teman, tapi aku ini kakaknya Aga!” Dia melipat tangannya dan menepuk-nepuk pundak Aga.
Keningku berkerut, kakak? bukankah Aga tidak punya kakak?

“Oh, baiklah dia memang kakakku, ada apa kakak kesini?” tanya Aga menunjukkan wajah tidak suka.

“Ada apa? bukankah hari ini kau akan menjalani terapi Aga?” Terapi? Apa-apaan ini! Apa yang terjadi pada Aga hingga dia harus menjalani terapi?!

“Terapi apa?” tanyaku penasaran.

“Hanya terapi kecil Via!” jawab Aga berusaha tenang. 

“Terapi kecil? Apa maksudmu Aga?” tanya perempuan yang dipanggil Aga kakak itu. Banyak pertanyaan terngiang-ngiang di kepalaku. Tapi aku menyimpannya dalam hati. Sepertinya Aga ingin menyembunyikan sesuatu dari diriku.

“Sudahlah kakak, jangan bahas itu lagi, setengah jam lagi aku akan kesana, pergilah duluan, aku masih ingin menikmati suasana disini!” tegas Aga. 

“Baiklah, setengah jam lagi ya! Aku pergi dulu! Sampai jumpa lagi Via,” Perempuan itu tersenyum padaku, manis sekali. Aku membalas senyumannya. Sebelum akhirnya dia pergi dari taman itu.

“Tidak usah dipikirkan!” kata Aga. 

Aku menoleh padanya. 

“Aga, apa yang ter..” Aga menempelkan telunjuknya di mulutku tanda menyuruhku diam. Aku menunduk.

“Tak ada apa-apa Via,” Aga tersenyum menatapku sambil memegang tanganku. Dingin.

“Via, apa yang membuatmu mencintai ku?”

“Aku mencintaimu karena kamu menarik, sangat baik dan aku menyukai segalanya tentangmu,” jawabku sambil tersenyum. 

“Baik bagaimana? Bukankah aku selalu menyakitimu?” tanya Aga lagi.

“Walaupun kau menyakitiku aku tak apa, apapun asal bersamamu aku senang Aga,” Aga memandang lurus kedepan. Matanya menerawang jauh.

“Oh, seperti itu? Apa itu yang namanya cinta Via?”

“Tentu saja Aga, cinta selalu butuh pengorbanan, dan aku berusaha menjadi yang terbaik untukmu Aga,” Aku menyandarkan kepalaku ke bahunya. Dia membelai rambutku pelan.

“Kalau seperti itu, mulai sekarang aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu Via,”

“Janji?” Aku menyodorkan jari kelingkingku. Dia mengkaitkannya.

“Janji”
***
Sejak kejadian di taman itu. Aku tak pernah melihat Aga lagi. Sudah seminggu, dan masih belum ada kabar mengenai Aga. Firasat buruk terus saja menghantui. Entah kenapa, hatiku mengatakan ada sesuatu yang buruk yang terjadi pada Aga. Bodohnya aku, aku lupa meminta nomor kakaknya. Aku hanya bisa menunggu kabar darinya sembari melantunkan doa. 

“Especially for you, I wanna let you know what i was going through,”

Aku langsung mencari-cari kemana ponselku. Aku berharap bahwa itu Aga. Ahh.. itu dia. Aku segera mengangkat telpon itu tanpa melihat siapa nama penelpon.

“Halo,”

“Halo, ini Via?”
Kenapa suara perempuan?

“Iya, ini siapa?”

“Aku putri, kakaknya Aga yang kemaren,”

“Owh, kak putri? aga kemana ya kak?”

“Bisa kita ketemuan Via?”

“Bisa, dimana kak,”

“Di cafe tempat pertama kali kamu ketemu sama Aga,”

“Oke,”

“Kakak tunggu ya”

Perasaanku makin tak menentu. Aku memakai jaketku dan memoleskan sedikit bedak. Pikiranku melayang-layang. Pertanyaan demi pertanyaan berputar-putar di kepalaku.
***
“Sudahlah, jangan menangis Via,” Aku berusaha menahan air mataku tapi tetap tidak bisa. Apa yang dibilang kak Putri membuatku tak kuat menahan tangis. Aga, terkena kanker otak stadium akhir.

“Kenapa baru sekarang kakak bilangnya?” tanyaku dengan suara parau.

“Maafkan aku, Aga tidak mengizinkanku untuk mengatakannya padamu, tapi karna kondisi Aga yang memburuk, aku terpaksa memberitahu kamu,” Aku terkejut.

“Kondisinya memburuk? Maksud kakak apa?” Air mataku kembali turun.

“Aga gak menghubungi kamu selama seminggu ini karna dia koma, dan dia belum sadar sampe sekarang, makanya kakak menghubungi kamu, mungkin dengan kedatangan kamu dia bisa sadar Via,” Kak Putri memelukku dengan erat.

“Ayo kita ke tempat Aga sekarang,”

***
Aku terdiam di depan pintu ruangan Aga. Tubuh Aga terbujur kaku disana dengan berbagai selang memenuhi tubuhnya yang sekarang terlihat lebih kurus. Penyakit itu telah menggerogoti tubuhnya tanpa ampun. Air mataku kembali tumpah. Hatiku rasanya sakit sekali melihat dirinya lemah tak berdaya. Jadi selama ini, inilah alasannya hanya punya sedikit waktu untukku. Itu karna dia harus selalu menjalani terapi agar penyakitnya sembuh. Aku merasa menjadi orang yang egois. Aku merasa bersalah sekali pada dirinya. 

“Ayo kita masuk Via,” Aku menatap ke ruangan itu lagi. Aku merasa belum sanggup untuk masuk ke sana. Bukannya belum tapi memang tidak sanggup. Aku pasti akan menangis di dalam sana.

“Ayolah, Aga membutuhkanmu,” Akhirnya aku mengangguk. Kubuka perlahan pintu ruangan itu. Aku berusaha menahan air mataku. Perlahan aku duduk disamping ranjang Aga. Aku memperhatikan wajahnya, pucat sekali. 

“Kakak pergi dulu Via, kakak harus menemui dokternya,” Kak putri bergegas pergi meninggalkan aku dan Aga.

Ku genggam perlahan tangannya, dingin. Aku mengelus wajahnya yang tampan itu.Tiba-tiba saja aku merindukan belaiannya, senyumnya, bentakannya padaku dan juga aku merindukan dia. 

“Kamu kenapa gak pernah bilang kalau kamu sakit?” Aga tampak diam seolah tak mendengarkanku.

“Bangun dong, aku kangen sama kamu, aku kangen canda kamu, senyum kamu, tawa kamu, aku kangen kamu marahin aku kalau aku bertingkah kekanak-kanakan. Aku pengen di beliin es krim lagi sama kamu. Aku pengen kamu meluk aku waktu aku lagi nangis. Aku pengen kamu minjamin jaket kamu waktu aku kedinginan, aku kangen kamu Aga, bangun!!” Tangisku pecah, cukup sudah aku tak bisa menahan air mata ini lagi. Hatiku terasa sakit sekali melihat dia menderita.

“Aga bangun! Peluk aku, sekarang aku lagi nangis karna kamu! Kamu bilang aku gak boleh nangis, ayo bangun biar aku gak nangis lagi Aga!”

Aku mengguncang-guncang tubuhnya perlahan. Aku menggenggam tangannya. Perlahan-lahan genggaman itu menguat. Aku menatapnya tak percaya. Perlahan-lahan mata Aga mulai membuka. Dia tersenyum menatapku. Senyum yang kurindukan.
 
“Via?” Aku langsung bangkit ingin memanggil dokter. Tapi Aga menarik tanganku kembali.

“Jangan dipanggil Via, aku cuma sebentar kok,”

“Maksud kamu apa Aga?” tanyaku sambil duduk kembali.

“Kamu jangan nangis dong,” Aga menghapus air mataku. 

Aku tersenyum senang.

“Kenapa kamu gak pernah bilang sama aku kalau kamu sakit?" 

“Ya aku kan gak mau kamu khawatir," 

“Tapi kan aku takut kalau kamu kenapa-kenapa,” 

"Maafin aku ya Via, selama ini aku selalu bentak kamu, marah-marah gak jelas, dan selalu ngabaikan kamu, aku selalu nyakitin kamu.. Aku minta maaf ya," Aga mengeratkan genggaman tangannya. Air mataku perlahan turun kembali.

"Tapi itu semua aku lakuin buat kamu Via, aku gak mau kamu mencintai aku, aku mau kamu jauhin aku, supaya kamu gak akan nangis nanti.. Aku ingin ngeliat kamu bahagia bersama orang lain, bukan aku.. Karena kamu gak akan pernah bahagia hidup dengan aku Via,"

"Kenapa Aga? Kenapa kamu ngomong kayak gitu, aku cinta sama kamu.."

"Makasih ya Via, selama ini kamu udah ngasih aku perhatian, kamu udah ngajarin aku apa itu arti cinta sebenarnya, maaf kalau aku belum bisa balas semua kebaikan kamu.."
 
“Hmm.. Via, aku cuma mau bilang kalau aku pergi nanti, jangan nangis ya,” 

Aku terkejut dengan apa yang di bilangnya. Pergi?

“Kamu mau pergi kemana?”

“Aku mau pergi jauh, kamu gak boleh ikut ya,” Air mataku tumpah lagi.

“Kamu jangan ngomong kayak gitu!!” 

“Tuh kan kamu nangis lagi, jangan nangis dong,”

“Makanya kamu jangan bilang kayak gitu!” bentakku lirih.

“Aku gak tahan lagi sayang, kepala aku sakit banget, aku mau tidur dulu ya, mungkin aku gak akan bangun lagi, bye cintaku, kamu pasti bisa dapetin orang yang lebih baik dari pada aku, aku cinta sama kamu sayang sekarang dan selamanya..” 

Aga tersenyum padaku dan perlahan-perlahan menutup matanya. Monitor menunjukkan garis lurus. Beberapa dokter dan perawat langsung datang. Aku merasa tubuhku ditarik ke dalam pelukan kak putri. Aku menangis sejadi-jadinya. 

Aku belum siap kehilangan Aga. Senyuman tadi, adalah senyuman terakhir yang Aga berikan untukku. Aku takkan pernah bisa melupakan dirinya. Sekarang dia sudah tertidur untuk selamanya. Maafkan aku Aga, aku tidak bisa untuk mencintai orang lain. Hatiku hanya untukmu dan akan selalu begitu.

“Jangan pergi..”