Di sini, di pantai ini kita mengurai cerita. Tawa, canda, sedih, duka semua bercampur menjadi satu dalam sebuah nama, cinta. Tak bisa ku elakkan lagi, sejak pertama aku memandangmu, hatiku sudah terikat olehmu. Ketampananmu, kebaikanmu, kepolosanmu, dan semuanya yang membuatmu menjadi indah di mataku. Dan juga senyummu yang selalu kau berikan pada setiap orang yang dekat denganmu.
Termasuk diriku, seorang gadis yang mencintaimu sejak dulu. Sejak pertama kali bertemu saat kita masih berbaju putih dongker. Tapi aku cukup sadar diri. Memangnya siapa diriku ini di bandingkan dengan Ana, gadis yang sangat kau cintai dan beruntung bisa menjadi kekasihmu sekarang. Aku hanyalah sebuah kerikil di jalanan yang tak pernah kau pedulikan. Aku hanya menjadi teman di saat kau kesepian saja. Di saat lain, kau akan kembali mencampakkanku dan berdua dengannya.
Tak pernahkah kau sadari perasaanku ini, yang selalu bertambah setiap harinya. Tak pernahkah kau sadari dendam besarku terhadap Ana yang telah merebutmu dari aku. Tak pernahkah kau mengingat kenangan yang pernah kita ukir bersama. Kenangan yang tak akan pernah lepas dari ingatanku. Kenangan yang kita bangun selama 10 tahun ini. Lalu, selama ini kau anggap apa aku? Apa aku hanya kau anggap sebagai seorang sahabat? Atau kau hanya menganggapku sebagai adikmu sendiri? Kenapa tidak bisa lebih dari itu?!
"Alya?" sebuah suara kecil mengagetkanku. Aku menoleh ke belakang. Ku dapati dia dengan senyum khasnya yang lebar.
"Kenapa?"
"Aku sangat senang hari ini!" Dia mengambil posisi di sampingku lalu meneguk air kelapa yang tak kusentuh sedikitpun dari tadi.
"Senang kenapa?"
"Karena dia bersedia dinner denganku!" Aku mengalihkan pandanganku depan, memandang gelombang laut yang beriak-riak tak tentu arah. Mencerminkan perasaanku saat ini.
"Ana?"
"Ya, Memangnya siapa lagi? Tidak mungkin kan denganmu? Hehe.." Tawa renyahnya meluncur dengan cepat, aku hanya menunduk. Kau memang tidak pernah mengerti perasaanku.
"Ohh.." Hanya itu yang bisa ku keluarkan dari mulutku. Lalu kami kembali terdiam, sibuk dengan pemikiran masing-masing, yang tentu saja tak akan pernah sama. Kau pasti memikirkan Ana, sedangkan aku, selalu sibuk memikirkanmu.
"Sepertinya kamu agak berbeda hari ini?" tanyanya sambil mengamatiku. Aku menghela nafas panjang. Menoleh kepadanya sebentar dan kembali memandang lautan.
"Kenapa baru sekarang kau sadar?"
"Maksudmu?"
"Kenapa baru sekarang kau sadar aku berbeda?"
"Aku tidak mengerti. Aku hanya berpikir, kamu kelihatan sedih.. tidak seperti Alya yang biasanya.."
"Memangnya kau tau seperti apa Alya yang biasanya?"
"Ya, Alya yang kukenal itu periang, baik, cerewet, selalu memukulku jika aku mengambil air kelapamu, dan juga kamu selalu menunjukkan senyummu itu saat aku meringis kesakitan.."
"Aku kira kamu sudah lupa.." Aku tersenyum sinis.
"Lupa kenapa?"
"Ya karena Ana, semenjak ada dia kamu menjauhiku!"
"Apa maksudmu? Kamu tidak suka aku berhubungan dengan Ana?" tanyanya kaget dengan sindiranku.
"Aku punya cerita, apa kamu mau mendengarnya," Dia hanya mengangkat bahu.
"Baiklah, ada dua orang anak smp yang bertemu di kelas 7.1, karena hobi mereka sama, mereka memutuskan untuk menjadi sahabat. Sejak saat itu, mereka terlihat sangat akrab dan sulit untuk di pisahkan. Setiap hari sabtu sore mereka selalu mengunjungi pantai ini. Suka duka mereka jalani bersama. Yang cowok selalu mengganggu yang cewek dengan mengambil air kelapanya, kalau sudah begitu, cewek itu akan memukul sang cowok dan tersenyum saat sang cowok meringis kesakitan akibat pukulannya.." Aku menghela napas, berusaha menahan bulir air mata yang bersembunyi di bawah mataku.
"Namun, semuanya berubah saat sang cowok mempunyai kenalan baru, yaitu seorang gadis yang sangat cantik.. Sang cowokpun mulai menjauhi sahabatnya itu dan sibuk dengan gadis itu. Si cewek yang sudah mulai mencintai sahabat cowoknya itu sangat sedih. Dia berusaha melupakan cowok itu. Tapi, semakin berusaha dia melupakan, semakin bertambah cintanya.. Sampai saat inipun cowok itu tidak pernah memahami perasaan cewek itu. Bagaimana sakitnya dia saat melihat cowok itu tersenyum pada gadis yang baru dia kenal itu. Apalagi hatinya sangat hancur saat sahabatnya dengan gampangnya curhat dengan dirinya bahwa dia mulai menyukai gadis itu.. Tanpa pernah mempedulikan cewek itu.." Aku tak bisa lagi menahannya, air mataku tumpah saat itu juga. Sakit. Sangat sakit. Dia hanya menatapku tak percaya.
"Jadi, kamu mencintaiku Alya? Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya?"
"Untuk apa? Kau mencintainya, bukan aku! Lalu untuk apa aku mengatakannya? Untuk apa Aga?! Untuk apa?!" bentakku.
"Alya, maafkan aku. Maafkan aku yang sudah menyakitimu.. Maafkan aku yang tidak pernah mengerti perasaanmu.. Maafkan aku yang tidak peka akan cintamu.. Aku akan memutuskannya Alya!" kata Aga sambil memelukku. Aku mendorong tubuhnya menjauh dariku.
"Untuk apa kau memutuskannya jika orang yang kau cintai adalah dia!"
"Aku tidak pernah mencintainya! Aku mencintaimu Alya, dia hanya pelampiasanku saja! Aku tidak pernah benar-benar mencintainya!"
"Kau bohong, aku tidak percaya padamu! Kau hanya ingin menghiburku!"
"Tidak, aku bersungguh-sungguh, aku mencintaimu!"
"Sudahlah, mungkin ini yang terbaik untuk kita, lusa aku akan berangkat ke Melbourne Aga! Selamat tinggal, aku harap kamu bahagia dengan pilihanmu!" Aku bangkit dan beranjak pergi, namun Aga menarik tanganku. Ku lihat matanya mulai merah, menahan tangisan. Apakah dia sungguh-sungguh mencintaiku? Apakah ini hanya mimpi saja? Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?
"Aku mencintaimu, aku bersungguh-sungguh! Aku tidak akan membiarkanmu pergi.. Aku mohon jangan tinggalkan aku.." pintanya memelas. Aku menatapnya iba. Perlahan kulepaskan genggaman tangannya dan pergi dari situ. Aku tidak bisa. Terlalu sakit.
***
Hari ini, hari keberangkatanku ke Melbourne. Dan kini aku sudah duduk di kursi ruang tunggu. Tak ada tanda-tanda Aga akan datang ke sini. Syukurlah, dia sudah mulai melupakanku. Aku akui, aku memang mencintainya, tapi aku yakin orang yang dia cintai adalah Ana, bukan aku. Ahh.. Aga, mungkin aku tidak akan bisa melupakan semua kenangan yang pernah kita ukir bersama di sini. Namun, bisakah aku mencoba menutupinya dengan kenangan indah yang akan kuukir bersama seseorang yang baru di Melbourne nanti? Aku tak pernah tau, tapi aku akan mencobanya.
"Bagi para penumpang calon keberangkatan Jakarta-Melbourne, diharapkan segera memasuki pesawat!"
Aku bangkit dan menyeret koperku masuk ke pesawat. Tampak kerumunan orang sudah masuk duluan ke pesawat itu sambil berdesak-desakan. Aku mendengus kesal, ini yang paling aku benci. Ku tunggu kerumunan itu masuk semuanya, baru aku masuk ke dalam pesawat itu.
Pesawat ini cukup besar, mungkin bisa menampung 500 orang. Aku sendiri memegang tiket VIP. Semoga saja orang yang duduk di sampingku nanti adalah seorang wanita muda seumuranku yang bisa di ajak mengobrol. Jadi, aku tidak kepikiran Aga lagi. Namun, setelah pesawat lepas landas pun, tidak ada yang duduk di sampingku. Hah, menyebalkan sekali. Karena dudukku di samping jendela, aku bisa bebas melihat bumi Indonesia dari bawah. Ah.. betapa aku akan merindukan negeri ini.
"Hai," Aku menoleh. Kudapati seseorang yang ku kenal kini sudah duduk di sampingku. Aku menutup mulutku tak percaya. Dia...
"Aga?"
"Iya, ini aku Alya, aku Aga! Orang yang berusaha kamu lupakan.." sahutnya tersenyum miris.
"Kamu kenapa bisa sampai di sini?"
"Sudah kukatakan, aku mencintaimu, aku tidak akan membiarkanmu pergi, tapi kalau kamu memang ingin pergi juga, maka izinkan aku untuk ikut bersamamu!" jawab Aga bersungguh-sungguh. Air mataku perlahan turun kembali. Dengan sigap, Aga memelukku.
"Aku mencintaimu Aga," bisikku pelan.
"Apa? Aku tidak mendengarnya? Bisa kamu ulangi lagi?" goda Aga sambil tersenyum nakal.
"Aku mencintaimu Aga!" kataku, kali ini sedikit keras.
"Haha.. aku juga mencintaimu Alya, maafkan aku sudah menyakitimu.."
"Tak apa, lalu bagaimana dengan Ana?" tiba-tiba saja pertanyaan ini keluar dari mulutku.
"Awalnya dia tidak terima, tapi aku mengatakan bahwa aku tidak mencintainya, aku mencintaimu, dan akhirnya dia membiarkanku pergi.."
"Kenapa dulu kamu bilang sama aku kalau kamu cinta sama dia? Dan kenapa kamu pacaran sama dia, kalau yang kamu cinta ternyata aku?"
"Aku cemburu.."
"Cemburu? Cemburu sama siapa?" tanyaku kaget. Sepertinya aku tidak pernah dekat dengan cowok manapun selain Aga.
"Cemburu sama Ali, kamu sama dia dekat banget kan dulu, Ali cerita sama aku, dia itu suka sama kamu, dan katanya kamu juga udah nunjukin tanda-tanda kalau kamu suka sama Ali, makanya aku pacaran sama Ana.." jawabnya sambil tersenyum miris.
"Maaf ya, tapi aku gak pernah suka sama Ali, aku nganggap dia cuma teman aja.." Aga menggenggam tanganku.
"Jadi, kamu mau kan jadi pacar aku?" tanya Aga serius. Aku tersenyum dan mengangguk.
"Aku mau.."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan Berkomentar Teman ^--^