Aku menatapnya yang kini duduk di sampingku. Dia tampak sama, dingin
dan tak pernah banyak omong. Dia selalu acuh pada keadaan sekitarnya.
Termasuk diriku. Tapi aku tak pernah menyesal menjalin hubungan
dengannya. Aku suka sikapnya yang dingin dan tak pernah berbasa-basi.
Aku masih ingat bagaimana saat dia dulu menyatakan cintanya kepadaku.
“Via, aku mencintaimu, aku ingin kamu menjadi pacarku, apa kamu mau?” tanya Aga saat menyatakan cintanya padaku.
“Via, aku mencintaimu, aku ingin kamu menjadi pacarku, apa kamu mau?” tanya Aga saat menyatakan cintanya padaku.
“Aku mau!” jawabku sambil tersenyum.
Entahlah aku tak pernah tau mengapa aku mencintainya. Yang pasti aku
menyukai semua tentangnya. Bagiku semuanya indah selama masih
berhubungan dengannya.
“Aga!” Dia menoleh kepadaku sebentar dan kembali menatap lurus kedepan.
“Ada apa Via? Aku tidak punya banyak waktu jadi jangan berbasa-basi!!”
“Luangkanlah sedikit waktumu Aga!” jawabku miris.
“Untuk siapa? Untukmu! Huh.. Aku punya banyak urusan lain selain mengurusimu!”
Aku tertegun.
“Jadi kamu mengira aku tidak penting!!” jeritku pelan.
“Lalu kenapa kamu memintaku untuk menjadi pacarmu?” Dia tidak menjawab.
“Jawab Aga!!” bentakku. Dia tersentak dan menoleh kepadaku dengan emosi.
“Karna Aku mencintaimu!! Dan aku sudah pernah mengatakan itu sebelumnya!! Jadi jangan bertanya lagi!!” tegasnya.
“Kalau kamu mencintaiku, berilah sedikit waktumu untukku Aga!!” Aku
menangis. Aga menatapku dengan perasaan bersalah, lalu memelukku erat.
Hangat. Itu Yang kurasakan. Tak seperti sikapnya yang dingin.
“Jangan nangis lagi. Maafin aku ya, aku akan berusaha buat luangin waktu aku buat kamu..” Dia mengelus rambutku pelan.
“Janji?” Aku menatapnya.
“Iya,"
***
Hari ini Aga menepati janjinya dan mengajakku berjalan-jalan di taman
kota. Dia membelikanku es krim dan menarikku untuk duduk disalah satu
bangku taman. Di depan bangku itu ada sebuah kolam ikan kecil yang
dipenuhi ikan. Aku melemparkan sedikit cone es krimku pada mereka. Dan
mereka langsung mendekat. Setelah sadar bahwa itu bukan makanan mereka.
Merekapun menjauh dari situ. Aku tertawa geli melihat mereka.
“Kenapa tertawa?!” tanya Aga kesal.
Aku menoleh dan tersenyum sebentar.
“Bukankah ini lucu Aga?” Dia mendengus kesal.
“Kamu seperti anak kecil, Via!” Aku tersenyum senang dan kembali
menjahili ikan-ikan di dalam kolam itu. Sementara Aga hanya melipat
tangannya sambil menekuk wajahnya. Hmm.. Yah, aku tau Aga tak pernah
suka jika berada di taman karna menurutnya taman adalah tempat yang
menyebalkan karna banyak orang tertawa disini. Aga memang tak suka
berada di tengah-tengah keramaian. Dia lebih suka berada di tempat sunyi
dan dia akan mulai melukis apa saja yang dilihatnya.
Aga memang termasuk seseorang yang pandai melukis. Dia selalu melukis
apa saja yang dia mau. Tapi dia tak pernah melukis diriku. Alasannya
karna aku ini bukanlah sebuah objek. Entahlah, aku tak tau apa yang ada
dipikirannya, yang pasti aku selalu menyukai semua tentangnya. Apapun
itu. Dan aku sudah hapal semua hobinya termasuk apa yang tidak dia
sukai. Aku selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik bagi Aga.
“Aga?” sapa seorang perempuan yang tiba-tiba datang dihadapanku. Aga
tampak terkejut melihat perempuan itu, tapi dia berusaha
menyembunyikannya.
“Kamu siapa?” tanyaku melihat Aga yang terdiam.
“Owh, bukankah kau Via? Apakah aga tidak pernah bercerita tentangku?”
tanya perempuan itu balik bertanya. Aku menoleh pada Aga meminta
penjelasan.
“Dia temanku!” jawab Aga singkat.
“Bukan teman, tapi aku ini kakaknya Aga!” Dia melipat tangannya dan
menepuk-nepuk pundak Aga.
Keningku berkerut, kakak? bukankah Aga tidak
punya kakak?
“Oh, baiklah dia memang kakakku, ada apa kakak kesini?” tanya Aga menunjukkan wajah tidak suka.
“Ada apa? bukankah hari ini kau akan menjalani terapi Aga?” Terapi?
Apa-apaan ini! Apa yang terjadi pada Aga hingga dia harus menjalani
terapi?!
“Terapi apa?” tanyaku penasaran.
“Hanya terapi kecil Via!” jawab Aga berusaha tenang.
“Terapi kecil? Apa maksudmu Aga?” tanya perempuan yang dipanggil Aga
kakak itu. Banyak pertanyaan terngiang-ngiang di kepalaku. Tapi aku
menyimpannya dalam hati. Sepertinya Aga ingin menyembunyikan sesuatu
dari diriku.
“Sudahlah kakak, jangan bahas itu lagi, setengah jam lagi aku akan kesana,
pergilah duluan, aku masih ingin menikmati suasana disini!” tegas Aga.
“Baiklah, setengah jam lagi ya! Aku pergi dulu! Sampai jumpa lagi
Via,” Perempuan itu tersenyum padaku, manis sekali. Aku membalas
senyumannya. Sebelum akhirnya dia pergi dari taman itu.
“Tidak usah dipikirkan!” kata Aga.
Aku menoleh padanya.
“Aga, apa yang ter..” Aga menempelkan telunjuknya di mulutku tanda menyuruhku diam. Aku menunduk.
“Tak ada apa-apa Via,” Aga tersenyum menatapku sambil memegang tanganku. Dingin.
“Via, apa yang membuatmu mencintai ku?”
“Aku mencintaimu karena kamu menarik, sangat baik dan aku menyukai segalanya tentangmu,” jawabku sambil tersenyum.
“Baik bagaimana? Bukankah aku selalu menyakitimu?” tanya Aga lagi.
“Walaupun kau menyakitiku aku tak apa, apapun asal bersamamu aku
senang Aga,” Aga memandang lurus kedepan. Matanya menerawang jauh.
“Oh, seperti itu? Apa itu yang namanya cinta Via?”
“Tentu saja Aga, cinta selalu butuh pengorbanan, dan aku berusaha
menjadi yang terbaik untukmu Aga,” Aku menyandarkan kepalaku ke bahunya.
Dia membelai rambutku pelan.
“Kalau seperti itu, mulai sekarang aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu Via,”
“Janji?” Aku menyodorkan jari kelingkingku. Dia mengkaitkannya.
“Janji”
***
Sejak kejadian di taman itu. Aku tak pernah melihat Aga lagi. Sudah
seminggu, dan masih belum ada kabar mengenai Aga. Firasat buruk terus
saja menghantui. Entah kenapa, hatiku mengatakan ada sesuatu yang buruk
yang terjadi pada Aga. Bodohnya aku, aku lupa meminta nomor kakaknya.
Aku hanya bisa menunggu kabar darinya sembari melantunkan doa.
“Especially for you, I wanna let you know what i was going through,”
Aku langsung mencari-cari kemana ponselku. Aku berharap bahwa itu
Aga. Ahh.. itu dia. Aku segera mengangkat telpon itu tanpa melihat siapa
nama penelpon.
“Halo,”
“Halo,”
“Halo, ini Via?” Kenapa suara perempuan?
“Iya, ini siapa?”
“Aku putri, kakaknya Aga yang kemaren,”
“Owh, kak putri? aga kemana ya kak?”
“Bisa kita ketemuan Via?”
“Bisa, dimana kak,”
“Di cafe tempat pertama kali kamu ketemu sama Aga,”
“Oke,”
“Kakak tunggu ya”
Perasaanku makin tak menentu. Aku memakai jaketku dan memoleskan sedikit bedak. Pikiranku
melayang-layang. Pertanyaan demi pertanyaan berputar-putar di kepalaku.
***
“Sudahlah, jangan menangis Via,” Aku berusaha menahan air mataku tapi
tetap tidak bisa. Apa yang dibilang kak Putri membuatku tak kuat
menahan tangis. Aga, terkena kanker otak stadium akhir.
“Kenapa baru sekarang kakak bilangnya?” tanyaku dengan suara parau.
“Maafkan aku, Aga tidak mengizinkanku untuk mengatakannya padamu,
tapi karna kondisi Aga yang memburuk, aku terpaksa memberitahu kamu,”
Aku terkejut.
“Kondisinya memburuk? Maksud kakak apa?” Air mataku kembali turun.
“Aga gak menghubungi kamu selama seminggu ini karna dia koma, dan dia
belum sadar sampe sekarang, makanya kakak menghubungi kamu, mungkin
dengan kedatangan kamu dia bisa sadar Via,” Kak Putri memelukku dengan
erat.
“Ayo kita ke tempat Aga sekarang,”
***
Aku terdiam di depan pintu ruangan Aga. Tubuh Aga terbujur kaku
disana dengan berbagai selang memenuhi tubuhnya yang sekarang terlihat lebih kurus. Penyakit itu telah menggerogoti tubuhnya tanpa ampun. Air
mataku kembali tumpah. Hatiku rasanya sakit sekali melihat dirinya
lemah tak berdaya. Jadi selama ini, inilah alasannya hanya punya sedikit
waktu untukku. Itu karna dia harus selalu menjalani terapi agar
penyakitnya sembuh. Aku merasa menjadi orang yang egois. Aku merasa
bersalah sekali pada dirinya.
“Ayo kita masuk Via,” Aku menatap ke ruangan itu lagi. Aku merasa
belum sanggup untuk masuk ke sana. Bukannya belum tapi memang tidak
sanggup. Aku pasti akan menangis di dalam sana.
“Ayolah, Aga membutuhkanmu,” Akhirnya aku mengangguk. Kubuka perlahan
pintu ruangan itu. Aku berusaha menahan air mataku. Perlahan aku duduk disamping ranjang Aga. Aku memperhatikan wajahnya,
pucat sekali.
“Kakak pergi dulu Via, kakak harus menemui dokternya,” Kak putri bergegas pergi meninggalkan aku dan Aga.
Ku genggam perlahan tangannya, dingin. Aku mengelus wajahnya yang tampan itu.Tiba-tiba saja aku merindukan
belaiannya, senyumnya, bentakannya padaku dan juga aku merindukan dia.
“Kamu kenapa gak pernah bilang kalau kamu sakit?” Aga tampak diam seolah tak mendengarkanku.
“Bangun dong, aku kangen sama kamu, aku kangen canda kamu,
senyum kamu, tawa kamu, aku kangen kamu marahin aku kalau aku bertingkah
kekanak-kanakan. Aku pengen di beliin es krim lagi sama kamu. Aku
pengen kamu meluk aku waktu aku lagi nangis. Aku pengen kamu minjamin
jaket kamu waktu aku kedinginan, aku kangen kamu Aga, bangun!!”
Tangisku pecah, cukup sudah aku tak bisa menahan air mata ini lagi.
Hatiku terasa sakit sekali melihat dia menderita.
“Aga bangun! Peluk aku, sekarang aku lagi nangis karna kamu! Kamu
bilang aku gak boleh nangis, ayo bangun biar aku gak nangis lagi Aga!”
Aku mengguncang-guncang tubuhnya perlahan. Aku menggenggam tangannya. Perlahan-lahan genggaman itu menguat. Aku menatapnya tak percaya. Perlahan-lahan mata Aga mulai
membuka. Dia tersenyum menatapku. Senyum yang kurindukan.
“Via?” Aku langsung bangkit ingin memanggil dokter. Tapi Aga menarik tanganku kembali.
“Jangan dipanggil Via, aku cuma sebentar kok,”
“Maksud kamu apa Aga?” tanyaku sambil duduk kembali.
“Kamu jangan nangis dong,” Aga menghapus air mataku.
Aku tersenyum senang.
“Kenapa kamu gak pernah bilang sama aku kalau kamu sakit?"
“Ya aku kan gak mau kamu khawatir,"
“Tapi kan aku takut kalau kamu kenapa-kenapa,”
"Maafin aku ya Via, selama ini aku selalu bentak kamu, marah-marah gak jelas, dan selalu ngabaikan kamu, aku selalu nyakitin kamu.. Aku minta maaf ya," Aga mengeratkan genggaman tangannya. Air mataku perlahan turun kembali.
"Tapi itu semua aku lakuin buat kamu Via, aku gak mau kamu mencintai aku, aku mau kamu jauhin aku, supaya kamu gak akan nangis nanti.. Aku ingin ngeliat kamu bahagia bersama orang lain, bukan aku.. Karena kamu gak akan pernah bahagia hidup dengan aku Via,"
"Kenapa Aga? Kenapa kamu ngomong kayak gitu, aku cinta sama kamu.."
"Makasih ya Via, selama ini kamu udah ngasih aku perhatian, kamu udah ngajarin aku apa itu arti cinta sebenarnya, maaf kalau aku belum bisa balas semua kebaikan kamu.."
“Hmm.. Via, aku cuma mau bilang kalau aku pergi nanti, jangan nangis
ya,”
Aku terkejut dengan apa yang di bilangnya. Pergi?
“Kamu mau pergi kemana?”
“Aku mau pergi jauh, kamu gak boleh ikut ya,” Air mataku tumpah lagi.
“Kamu jangan ngomong kayak gitu!!”
“Tuh kan kamu nangis lagi, jangan nangis dong,”
“Makanya kamu jangan bilang kayak gitu!” bentakku lirih.
“Aku gak tahan lagi sayang, kepala aku sakit banget, aku mau tidur
dulu ya, mungkin aku gak akan bangun lagi, bye cintaku, kamu pasti bisa
dapetin orang yang lebih baik dari pada aku, aku cinta sama kamu sayang
sekarang dan selamanya..”
Aga tersenyum padaku dan perlahan-perlahan menutup matanya. Monitor
menunjukkan garis lurus. Beberapa dokter dan perawat langsung datang.
Aku merasa tubuhku ditarik ke dalam pelukan kak putri. Aku menangis
sejadi-jadinya.
Aku belum siap kehilangan Aga. Senyuman tadi, adalah senyuman
terakhir yang Aga berikan untukku. Aku takkan pernah bisa melupakan
dirinya. Sekarang dia sudah tertidur untuk selamanya. Maafkan aku Aga, aku tidak bisa untuk mencintai orang lain. Hatiku hanya untukmu dan akan selalu begitu.
“Jangan pergi..”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan Berkomentar Teman ^--^